Sunday, April 18, 2010

WASIAT RASULULLAH KEPADA AISYAH

Wasiat RasululLah SAW Kepada Siti Aisyah

Daripada Sayidatina Aisyah r.h.a., telah berwasiat Rasulullah s.a.w. Sabdanya: “Hai Aisyah, aku berwasiatkan wasiat ini, maka hafalkanlah olehmu akannya. Engkau akan sentiasa dalam kebajikan selagi engkau menghafali wasiatku ini.

“Hai, Aisyah peliharalah dirimu kerana bahawasanya kebanyakan kaum wanita menjadi isi neraka dan kayu apinya.

Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapakah terjadi yang demikian itu?”

Jawab baginda, “Kerana mereka tidak sabar di atas kesusahan, tidak memuji Allah atas kemurahan-Nya, mengkufuri nikmat-Nya, banyak berkata kepada perkara yang sia-sia. Kaum perempuan juga kurang pada akal dan agamanya. Adapun kurangnya pada agama, bahawasanya perempuan itu pada setiap bulan meninggalkan solat sekian-sekian harinya dan keadaan kurang akal ialah Allah s.w.t menjadikan dua orang saksi wanita bagi ganti seorang saksi lelaki.

"Hai Aisyah, adalah kebanyakan wanita apabila diberi; tiada bersyukur dan apabila ditimpa bencana tidak sabar. Apabila dipalingkan muka daripada mereka, mereka akan mengadu-ngadu dan mengkufuri nikmat.”

Memperkecil Jasa Suami

Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah, bagaimanakah yang dikatakan mengkufuri nikmat itu?”

Sabdanya, “Kerana bahawasanya wanita itu di bawah jagaan kaum lelaki, kemudian beroleh anak dua atau tiga orang, lalu berkata, Demi Allah tiada aku lihat padamu (suaminya) walau satu kebajikan.

"Hai Aisyah, apabila berkata seorang wanita kepada suaminya; tiadalah kulihat satu kebajikan pun daripadamu; maka ditolak oleh Allah segala amalannya.

"Apabila seorang wanita menyakiti suaminya dengan lidah, maka Allah akan menjadikan lidahnya pada hari kiamat sepanjang tujuh 70 hasta lalu diikat ke belakang tengkuknya.

"Seorang wanita memandang suaminya dengan pandangan jahat dan memalingkan mukanya daripada suaminya, maka pada hari akhirat Allah menghempas muka dan tubuhnya.

"Apabila seorang wanita itu tidak bertukar tempat tidur atau berpindah tempat tidur dan menyukarkan kerja suami, mengingkari nikmat yang diberi suami atau khianat pada dirinya, ia akan dihitamkan mukanya di akhirat dan kelabu warna matanya. Akan diikat ubun-ubunnya kepada kakinya lalu diletakkan syaitan di atas mukanya di dalam neraka.

Tidak Berdoa Untuk Suami

"Apabila seorang wanita bersolat untuk Tuhannya, kemudian berdoa untuk dirinya tetapi tidak berdoa untuk suaminya; solatnya itu akan dipukulkan ke mukanya sehinggalah dia mendoakan untuk suaminya, kemudian barulah dia berdoa untuk dirinya.”

Balasan untuk perempuan yang tidak sabar

“Hai Aisyah, apabila wanita ditimpakan bala, lalu dia menampar-nampar muka dan mencarik-carikkan kainnya, maka adalah ia bersama isteri Nabi Nuh dan isteri Nabi Lut di dalam neraka. Dan ia akan berputus asa daripada segala kebajikan akhirat dan daripada syafaat di akhirat.

“Apabila wanita berkabung di atas kematian lebih daripada tiga hari digugurkan amalannya oleh Allah s.w.t.

“Hai Aisyah, apabila meratap wanita di atas kematian maka Allah menjadikan lidahnya sepanjang 70 hasta lalu diseret ke dalam neraka bersama orang-orang yang mengikutinya.”

Kewajipan suami

“Hai Aisyah, tiadalah seseorang lelaki itu masuk ke rumahnya dengan memberi salam kepada ahli keluarganya melainkan diberi banyak kebajikan kepada rumah itu dan dihindarkan daripada mereka papa. Dia dan ahlinya adalah sentiasa di dalam nikmat dunia dan nikmat akhirat.

“Hai Aisyah, terlalu kerap sahabat yang aku kasihi; Jibril, mengingatkanku mengenai kebajikan wanita sehingga aku merasakan bahawa mentalakkan wanita itu akan diharamkan. Hai Aisyah, akulah pembela wanita yang ditalakkan suaminya tetapi dia tidak memberi mahar kepada wanita itu. Allah s.w.t akan menjadi kadinya.

“Apabila lelaki menegah haknya (pakaian, makanan dan sebagainya) maka Allah s.w.t akan menegahnya daripada nikmat syurga pada hari kiamat nanti.

“Apabila lelaki yang beristeri ramai tidak berlaku adil antara mereka; tidak sama pada giliran tidur, nafkah, pakaian, makanan dan pandangan; maka ia akan dilaknat oleh Allah juga malaikat dan manusia kesemuanya.

Pahala Besar Kerana Hamil

“Hai Aisyah, tidak mengandung seorang wanita daripada benih suaminya melainkan pada waktu ia mengandung itu diberi pahala seperti pahala puasa pada siang hari dan seperti pahala orang yang solat sepanjang malam serta pahala orang yang berperang di jalan Allah.

“Tidaklah seorang wanita itu yang melahirkan anaknya itu melainkan setiap kesakitan itu seperti memerdekakan seorang hamba dan setiap kali memberi susu itu juga seperti memerdekakan seorang hamba. Hai Aisyah, apabila seorang wanita mengeluarkan susu untuk anaknya maka berseru suara dari langit yang menyerukan; ‘Hai wanita, cukuplah pada amalan yang lalu, maka cukuplah baginya amalan-amalan yang akan datang.’

Pahala Kerana Meringankan Mahar

“Hai Aisyah, apabila seorang wanita meringankan mahar kahwinnya dan isi hantarannya maka setiap dirham yang dikurangkan itu adalah haji yang mabrur dan umrah yang makbul. Dan diampunkan dosanya dan dosa yang lampau, sama ada disengaja atau tidak sengaja.

“Apabila seorang wanita itu bersabar atas kejahatan suaminya maka ia seperti pahala orang yang menumpahkan darah dalam perang sabilillah. Selain itu ia tergolong dalam golongan qanitaat (banyak ibadah), zakiraat (kuat mengingati Allah), muslimin dan mukminat yang banyak beribadah.

“Maka bersungguh-sungguhlah kamu dan bersungguh-sungguhlah. Nescaya kamu akan bersahabat dengan pengikut wanita Nabi Yusuf, Nabi Daud, Nabi Adam, Nabi Nuh dan Nabi Lut.”

Sunday, April 4, 2010

KEMURTADAN SEORANG PENGUASA

Jenis kemurtadan yang paling berbahaya adalah kemurtadan seorang penguasa. Dia yang
seharusnya diharapkan bisa memelihara aqidah umat dan memberantas kemurtadan serta
mengusir orang-orang yang murtad dan tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk
tetap tinggal di lingkungan masyarakat Islam, tetapi ternyata dia sendiri yang mempelopori
kemurtadan, baik secara rahasia ataupun secara terang-terangan. Dia menyebarkan
kefasikan, dan yang melindungi orang-orang yang murtad. Membukakan jendela dan pintu
untuk mereka. memberikan kepada mereka simbul dan nama, sehingga kondisinya seperti
yang diungkapkan dalam pepatah Arab, "Haamiiha wa Haraamiiha," atau yang dikatakan
oleh seorang penyair "Penggembala kambing itu semestinya memelihara kambingnya dari serigala, tetapi bagaimana jika para penggembala itu sendiri menjadi serigala."

Kita lihat penguasa seperti ini telah menjadi pendukung dan pelindung musuh-musuh Allah,
dan ia memusuhi wali-wali Allah (orang-orang yang beriman), menghina aqidah,
melecehkan syari at,. tidak menghargai perintah dan larangan Allah dan Nabi-Nya,
merendahkan seluruh kesucian dan kemuliaan ummat yaitu para sahabat yang abrar, dan
keluarga Nabi yang ath-haar, khulafa' akhyaar dan para imam yang alim dan para pahlawan
Islam. Mereka itu menganggap bahwa orang yang berpegang teguh pada syari'at Islam
sebagai kriminal dan ekstrimis, seperti shalat di masjid bagi kaum laki-laki dan memakai
hijab (jilbab) bagi kaum wanita.

Mereka tidak cukup berbuat demikian, tetapi mereka bekerja sesuai dengan falsafah (teori)
"Taifif Al Manaabi'" (mengeringkan/mematikan sumber) dengan berterus terang, dalam
pendidikan, penerangan dan kebudayaan. Sehingga tidak tumbuh (muncul) dari padanya
kecerdasan seorang Muslim dan tidak pula kepribadian seorang Muslim.

Mereka tidak berhenti sampai di situ, tetapi mereka juga mengusir (menekan) para da'i yang
sebenarnya. Mereka menutup pintu-pintu bagi setiap gerakan dakwah yang jujur yang
menginginkan pembaharuan dan aktualisasi semangat beragama serta memajukan
(memakmurkan) dunia berdasarkan dien.
Anehnya sebagian dari mereka--selain yang berterus terang dengan kemurtadannya--ada
yang senang menggunakan simbul Islam agar dikatakan oleh ummat bahwa mereka itu
orang-orang Islam. Padahal mereka ingin merobohkan bangunan ummat dari dalam.
Sebagian mereka ada yang berusaha menjadikan agama sebagai sentuhan saja yaitu dengan
mendorong masyarakat untuk beragama dengan berpura-pura dan merekrut para ulama yang
sering disebut "Ulama Sulthah dan Ulama Syurthah"(Ulama pemerintah dan spionase
penguasa).

Di sinilah keadaan menjadi sulit, siapakah yang akan melaksanakan had (hukuman) kepada
mereka? Atau siapakah orang (ulama) yang berani memberi fatwa atas kekufuran mereka,
padahal itu kekufuran yang nyata yang dalam istilah hadits disebut "Kufrun Bawwah."
Siapakah yang akan menghukumi kemurtadan mereka, sementara lembaga fatwa dan
peradilan yang resmi (sah) ada di tangan (kekuasaan) mereka?

Maka tidak ada lagi yang dapat dilakukan kecuali pembentukan"Opini Umum" ummat Islam
dan kesadaran umum yang Islami. Yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang bebas
(dari jeratan jahiliyah) dari para ulama, para da'i dan para pemikir yang masih teguh dan
tsabat di saat pintu-pintu di hadapannya telah ditutup, dan segala jalan telah diputus. Di saat
itu mereka akan berubah menjadi gunung berapi yang akan meletus di hadapan para Thaghut
yang murtad. Maka bukan persoalan yang gampang menghilangkan masyarakat Islam dari
identitasnya atau menjatuhkan aqidah dan risalahnya yang itu merupakan sumber kekuatan
dan rahasia kekekalannya.

Telah teruji dalam sejarah penjajahan Barat (Perancis) di Aljazair dan penjajahan timur
(Rusia) di berbagai wilayah negara-negara Islam di Asia --meskipun pengalaman itu keras
dan memakan waktu cukup lama di sana-sini--bahwa mereka tidak bisa mencabut akar
identitas Islam dan kepribadian Islami dari ummat Islam. Akhirnya pergilah para penjajah itu
dan tetaplah Islam dan kaum Muslimin dengan keberadaannya.
Hanya saja peperangan yang disulut untuk menghadapi Islam dan para da'inya oleh sebagian
penguasa Nasionalis sekuler yang kebarat-baratan di sebuah negara. maka setelah negara itu
merdeka, permusuhannya justru lebih tajam dan semakin keras daripada peperangan/
serangan pada penjajah itu sendiri.

Thursday, March 25, 2010

PERTUNANGAN YANG MENGIKUT SYARIAT

Islam memberi kita maklumat yang lengkap bagaimana menyalurkan rasa kasih kita pada insan yang bergelar kekasih. Di sini beberapa langkah yang perlu diambil bagi mereka yang yakin dengan istikharah mereka (istikharah dulu)

Sebelum seorang lelaki ingin menghantar pinangan, utuskanlah wakil untuk meninjau latar belakang peribadi wanita pilihannya itu. Begitu juga sebaliknya bagi pihak keluarga wanita dalam membuat keputusan untuk menerima bakal menantunya.

Hendaklah diselidiki dahulu diri lelaki yang hendak meminang itu tentang agamanya, fahamannya dan soal-soal hubungan dengan Tuhan sebagai pokok utama.

Pertama; adakah fardhu ain si lelaki benar-benar beres sebab suamilah tunjang yang bakal untuk mengajar anak-anak dan isteri bila telah mendirikan rumahtangga kelak. Memerhatikan perlaksanaan ibadah lelaki yang meminang itu seperti sembahyang secara individu dan
secara berjemaah. Memerhati matlamat perniagaan dan perusahaan atau matlamat dalam pekerjaan lelaki berkenaan.

Orang sekarang tidak lagi memandang soal-soal hubungan dengan Allah sebagai pokok utama sejahteranya rumahtangga. Setiap kali berlangsungnya majlis merisik perkara utama yang akan ditanya ialah hal-hal kemewahan keduniaan saja syarat yang akan mensejahterakan dan mengukuhkan rumahtangga.

Tidak hairanlah bila lepas kahwin kehidupan anak-anak dan isteri terbiar tanpa bimbingan dan tunjuk ajar yang sewajarnya. Akhirnya anak-anak tidak taat kepada ibubapa dan isteri jadi ‘Queen Control’ kepada suami. Akhirnya, suami hilang hemahnya di dalam mentadbir
rumahtangga menurut hukum Islam.

Ibubapa tidak boleh menolak pinangan seseorang lelaki itu semata-mata kerana darjat yang rendah. Sebaliknya, mestilah menolak pinangan seseorang lelaki itu apabila diketahui bahawa lelaki berkenaan berakhlak buruk seperti tidak sembahyang atau suka berfoya-foya, berjudi sekalipun dia berpangkat dan mempunyai harta.

Rasulullah saw pernah bersabda yang maksudnya:

“Sesiapa yang mengahwinkan akan perempuannya dengan lelaki yang fasik maka sebenarnya dia telah memutuskan silaturrahim dengan anaknya.”

Rasulullah saw bersabda lagi:

“Jika datang kepada kamu pinangan daripada seseorang lelaki yang kamu redha terhadapnya agama dan akhlaknya, hendaklah kamu terima. Kalau kamu menolaknya, padahnya adalah fitnah dan kerosakan di muka bumi.”

Setelah membuat perbincangan, wali wanita ada hak menentukan samada mahu menerimanya atau tidak, cuma secara beradapnya eloklah ditanya kepada empunya diri terlebih dahulu.

Mana-mana wanita yang tidak pandai membuat keputusan, eloklah memberi keputusan kepada walinya dalam membuat keputusan. Sebab pilihan walinya tentu tepat kerana seseorang bapa tidak akan sanggup menzalimi anaknya. Wali yang baik akan memilih lelaki yang beragama dan berakhlak mulia.

Akan tetapi kalau si anak itu mempunyai pilihan sendiri yang agak lebih baik agamanya dari pilihan bapanya itu, bapa hendaklah menghormati hasrat anaknya itu.

Untuk mendapat keberkatan Allah, dari awal majlis peminangan lagi kita mesti jaga iaitu tidak berlakunya percampuran di antara lelaki perempuan. Keberkatan Allah ini tidak dapat hendak kita gambarkan sebab hati yang akan terasa ketenangan itu. Kesannya bukan seminggu dua tetapi sampai ke hari tua.

Contohnya, orang di zaman salafusaleh, rumahtangga mereka berkat sebab dari awal peminangan lagi majlisnya sudah dijaga.

Tetapi kalau dalam majlis peminangan itu, awal-awal lagi kita tidak dapat menjaga syariat dan peradapan menurut Islam. Sampai akhir hayat pun mungkin rumahtangga itu nampak tak cantik, tak bahagia. Ada saja kusut masainya. Hati pun kadang-kadang tidak tenang untuk tinggal di rumah dan inilah yang banyak berlaku hari ini.

Sebab itulah amat penting dijaga suasana majlis ini. Biarlah bersusah-susah sedikit asalkan syariat Allah dapat kita jaga dengan baik.

Seperkara lagi, jangan dibebani rombongan peminangan dengan berbagai-bagai hantaran yang mahal-mahal. Contohnya pakaian, makanan, buah-buahan, alat solek, beg tangan, kasut, cincin bertunang, cincin nikah dan cincin hadiah. Memadai dngan sebentuk cincin saja sudahlah.

Malah ajaran Islam tidak pernah menyusahkan umat Islam dengan cara demikian. Bila hantaran terlalu tinggi hilang keberkatan rumahtangga.

Harus diingat, yang paling layak dalam menentukan mas kahwin ini ialah diri wanita itu sendiri, kerana mas kahwin itu memang haknya. Walau bagaimanapun sekarang ini semua negeri sudah menetapkan berapa mas kahwin untuk wanita tersebut bila berkahwin, boleh kita terima, tetapi sekiranya diri wanita tersebut hendak menetapkan berapa mas kahwinnya, kita perlu hormati. Begitulah kehendak syariat.

Sebab itulah dalam soal ini, Rasulullah memaklumkan kepada umat Islam bahawa mas kahwin yang paling baik yang terendah. Sabda Rasulullah saw:

“Bermula yang terbaik perempuan itu iaitu yang terlebih murah mas kahwinnya.”

Sabda Rasulullah saw lagi:

“Sebesar-besar berkat pernikahan ialah yang paling sediki mas kahwinnya.”

Bersabda Baginda lagi:

“Setengah daripada berkat permpuan itu iaitu segera dipersuamikan dan segera rahimnya itu kepada beranak dan murah mas kahwinnya.”

Kita patut mengetahui setengah daripada mas kahwin isteri Rasulullah saw itu hanya sepuluh dirham saja; sama nilainya dengan harga batu pengisar tepung atau sebiji tempayan atau sebiji bantal di rumahnya.

Setengah daripada para sahabat berkahwin dengan mas kahwin hanya seberat sebiji buah kurma (lebih kurang lima dirham)

Manakala Said Ibnu Musayyab mengahwinkan anak perempuannya dengan Abu Hurairah berbekalkan mas kahwin sebanyak dua dirham sahaja.

Sayidina Umar sangat melarang jika ada wali-wali perempuan yang menaikkan mas kahwin anak gadis mereka. Katanya:

“Tiada berkahwin Rasulullah dan tiada mengahwinkan ia anaknya yang perempuan dengan isi kahwin yang lebih daripada empat ratus dirham.”

Mas kahwin bukanlah semestinya hanya dengan wang atau emas permata, ayat-ayat Al Quran juga boleh dijadikan mas kahwin. Contohnya ayat dalam surah Al Fatihah atau Al Ikhlas, tidak kiralah seberapa banyak yang dikehendaki.

Akan tetapi apa yang dinamakan sebagai hantaran tidak wujud dalam Islam. Hantaran itu merupakan adat yang sepatutnya sudah lama ditinggalkan. Ini adalah kerana hantaran itu sebenarnya akan digunakan oleh pihak keluarga wanita untuk persiapan majlis perkahwinan.
Kalau begitu halnya, hantaran tidak patutlah diminta kepada bakal menantunya. Kecuali bakal menantu hendak memberi hantaran, boleh kita terima, inilah cantiknya ajaran Islam dan ada hikmahnya.

Pada hari pertunangan, hendaklah ia menggalakkan tunangnya agar memperluatkan agamanya dan bersikap zuhud (bukan buang dunia, tetapi hati tidak terpaut kepada dunia). Hendaklah bersama-sama berazam di atas satu dasar hidup iaitu qanaah, memadai dengan apa yang telah ada tanpa rasa tamak.

Setelah bertunang, janganlah mengenakan sesuatu tempuh yang agak lama jaraknya dengan penikahan. Sebaik-baiknya dilaksanakan pernikahan itu secepat mungkin agar terhindar dari berbagai fitnah manusia.

Elakkan pertemuan yang sia-sia semasa dalam pertunangan. Islam tidak memberikan kebebasan bergaul selepas meminang kerana menjaga maruah wanita dan lelaki itu sendiri. Pertunangan yang dibuat bukanlah sebagai tiket yang membolehkan seseorang lelaki itu untuk bergaul atau berdua-duaan dengan bakal isterinya.

Lelaki hanya diberi peluang melihat dan meneliti wanita itu dalam ruang yang aman daripada fitnah sosial dan kerosakan maruah. Walau bagaimanapun, pertemuan dengan tunang diharuskan sekiranya mengikut syariat.

Lelaki hanya dibolehkan melihat pada muka dan kedua pergelangan tangannya sahaja dan tidak melihat bahagian aurat tunang.

Perbualan hanya sekadar menanya khabar, memberi maklumat, menerima maklumat dan memberi nasihat. Perbualan yang tidak berfaedah memadu kasih, berjanji mesra, bercinta asmara dan sebagainya sangat dilarang atau haram hukumnya.

Pergaulan yang melibatkan tunang samada waktu melihat atau berbual hendaklah bersama muhrimnya. Di larang melihat tunang secara bersendiri. Rasulullah saw telah mengingatkan kita di dalam sabdanya:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kemudian maka jangnlah sekali-kali menyendiri dengan seorang perempuan yang tidak disertai oleh mahramnya, sebab nanti yang jadi orang ketiganya adalah syaitan”

Rasulullah saw bersabda lagi yang maksudnya:

“Tidak boleh sekali-kali seorang lelaki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal baginya, kerana orang ketiganya nanti adalah syaitan, kecuali kalau ada muhramnya

Sunday, March 21, 2010

DOSA RASUAH

Islam anggap sogokan kezaliman menggoyahkan kesatuan ummah

RASUAH adalah antara jenayah terkutuk dilarang Islam kerana kesannya begitu buruk, bukan saja kepada pelaku malah menyebabkan bencana kepada masyarakat dan negara akhirnya.


Oleh itu, Islam mengharamkan perbuatan rasuah daripada pelbagai sumber dan segi. Diharapkan amalan keji itu terpadam daripada kamus kehidupan umat Islam. Allah menegaskan pengharaman rasuah di kalangan umat Islam dengan berfirman: Dan janganlah kamu makan (atau mengambil) harta (orang lain) di antara kamu dengan jalan salah, dan jangan pula kamu menghulurkan harta kamu (memberi rasuah) kepada hakim kerana hendak memakan (atau mengambil) sebahagian daripada harta manusia dengan (berbuat) dosa, pada hal kamu mengetahui (salahnya). (Surah al-Baqarah, ayat 188).

Menurut perspektif Islam, rasuah ialah satu perbuatan sogokan dengan wang atau apa-apa hadiah atau manfaat sebagai ganjaran balas terhadap sesuatu hajat atau keinginan yang akan dan ditunaikan dengan cara tidak sebenarnya. Jelas daripada definisi amalan rasuah adalah satu jenayah terkutuk dan kesalahan besar dari sisi undang-undang.

Malah ia dilarang keras dan dikategorikan dalam amalan berdosa besar oleh Islam kerana terselit unsur kezaliman dan penindasan serta mengambil hak orang lain dengan tidak sebenarnya.

Bertolak daripada situ, jelas Islam melarang keras sebarang amalan rasuah kepada hakim dengan harapan untuk diringankan hukuman pihak yang bersalah atau dibebaskan daripada hukuman tertentu. Tidak kurang juga, kadang-kadang rasuah mampu mengubah fakta sedia ada sehingga yang salah menjadi benar dan begitu juga sebaliknya yang benar dikatakan bersalah.

Perlu ditegaskan, larangan itu tidak hanya terhad dalam bidang kehakiman dan perundangan, malah juga merangkumi bidang lain seperti politik, ekonomi dan sebagainya.

Meninjau senario umat Islam masa kini, didapati amalan rasuah semakin berleluasa dan membarah dalam bidang politik terutama ketika pilihan raya dan juga ketika pemilihan pucuk pimpinan dalam sesebuah organisasi politik. Keadaan seumpama ini bukan saja amat menyedihkan umat Islam, malah membawa petanda buruk kepada umat Islam mengenai kepincangan yang wujud dalam pentadbiran dan juga pengkhianatan pemimpin itu terhadap amanah rakyat kepadanya.

Keadaan itu juga menunjukkan betapa keadilan dan kebebasan sudah tidak wujud lagi dalam sistem pentadbiran negara. Umat Islam yang bertindak sebagai rakyat atau warga negara mempunyai hak dan kebebasan untuk memilih pemimpin yang berwibawa lagi adil dalam menerajui tampuk pemerintahan negara ke arah kemakmuran dan keredaan Ilahi.

Bahkan rakyat juga mempunyai hak untuk menegur dan jika perlu menurunkan pemimpin mereka jika didapati menyeleweng daripada landasan Islam yang sebenarnya atau mereka tidak berkemampuan untuk meneruskan teraju negara.

Haram memberi rasuah, haram juga menerimanya. Namun, dosa rasuah tidak terbatas kepada pemberi rasuah dan penerimanya saja. Ia turut membabitkan pihak ketiga yang bertindak sebagai perantara antara pemberi dan penerima rasuah. Yang perlu diambil perhatian di sini ialah akibat perbuatan itu amatlah menakutkan iaitu laknat daripada Allah.

Maksud laknat di sini ialah dijauhkan daripada rahmat Allah. Maka tidak hairanlah sekiranya amalan rasuah ini sebaris dengan amalan berdosa besar yang lain seperti syirik, membunuh, minum arak dan sebagainya.

Selain itu, akibat buruk berpunca daripada amalan rasuah sangat berkait rapat dengan kepentingan masyarakat umum dan negara apabila amalan itu boleh menggoyahkan kesatuan ummah di samping mampu menghakis kekuatan binaan sesuatu bangsa yang berdaulat.

Pemimpin yang mengamalkan perbuatan rasuah kebiasaannya akan membuahkan bibit penyelewengan dan ketidakadilan dalam pentadbiran seperti kronisme, penyalahgunaan kuasa, penindasan dan sebagainya. Akhirnya rakyat juga yang menanggung risiko dan padah.

Pada masa sama, jentera pentadbiran kerajaan akan pincang dan terbantut kerana pemimpin hanya berebutkan kuasa untuk kekal lama dalam kerajaan pada hal kuasa itu adalah satu amanah yang dikurniakan Allah kepada manusia.

Lebih-lebih lagi, amanah kepemimpinan akan dipersoalkan dan dibicarakan di hadapan Mahkamah Agung di Padang Mahsyar pada hari akhirat nanti. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Rasulullah dalam satu hadis maksudnya: Setiap daripada kamu adalah pemimpin dan kamu akan dipertanggungjawabkan terhadap orang yang berada di bawah pimpinan kamu. (Hadis riwayat Bukhari)

Oleh itu, setiap pemimpin yang dipilih oleh rakyat wajib menyedari dan menginsafi akan hakikat kepemimpinan dalam Islam kerana mereka bertanggungjawab sepenuhnya dengan kuasa di tangan untuk menunaikan amanah dengan mengutamakan kepentingan dan kebajikan rakyat terlebih dulu berbanding kepentingan diri sendiri.

Mereka juga hendaklah menjauhkan diri daripada amalan rasuah yang hanya menyebabkan bencana kepada masyarakat dan negara. Sebaliknya beramallah dengan ajaran Islam dengan menjadikan al-Quran dan hadis sebagai teras yang mendasari pentadbiran mereka. Dengan ini, barulah umat Islam dapat merealisasikan impian mereka sebagai umat yang terbaik lagi diredai Allah dalam segala lapangan hidup.

Friday, March 19, 2010

KERAS HATI

SEMUA orang tahu racun sangat berbahaya. Jangankan racun, keracunan makanan pun ditakuti.
Bagaimanapun, tidak ramai orang yang tahu betapa bahayanya dosa. Ia lebih berbahaya daripada racun.
Dosa membuatkan seseorang merana di dunia dan akhirat. Paling teruk kalau terminum racun orang akan mati tetapi bahaya dosa orang akan dibakar di neraka dan sebelum dibakar api neraka, orang berdosa ini terlebih dulu membakar yakni menyusahkan orang lain di dunia.

Ada orang kata dosa adalah soal peribadi masing-masing, buat masing-masing tanggung, jaga kubur masing-masing.

Sangat tidak betul kata-kata itu. Kubur kita orang lain yang gali manakala kubur orang lain terkadang kita yang kena uruskan.

Maknanya dosa yang kita lakukan akan menyusahkan orang lain. Peminum arak rasa itu perbuatan peribadi, duit dia dan kalau mabuk dia yang terhoyong-hayang.

Memanglah duit dia tetapi jika dah mabuk dia langgar orang, dah berapa ramai mangsa kemalangan angkara pemabuk. Rumah tangga lintang pukang dek kerana arak. Kan menyusahkan orang tu.

Antara bahaya dosa yang banyak itu ialah:

(1) Akan dicabut daripadanya nur iaitu cahaya dan seri keimanan terutama apabila melakukan dosa besar. Muka yang tidak pernah dibasahi air wuduk akan kehilangan serinya. Wajah inilah yang akan menerangi anggota wuduk di akhirat nanti.

(2) Tertutup daripada kebenaran. Maknanya pendosa mana baik dan buruk tetapi tak ikut kebaikan, dia tahu yang buruk tetapi tidak dapat meninggalkannya.

(3) Hilang rasa spontan terhadap amal kebaikan dan ganjaran serta tawaran pahala. Bila sebut syurga dia tidak teringin, bila disebut neraka tidak takut apa pun malah mengejek masuk neraka bukan seorang.

(4) Berat dan payah benar apabila ingin beramal sebaliknya mudah dan ringan apabila diajak melakukan dosa dan maksiat.

Menurut ibnu al Qayyim, sesiapa yang melakukan dosa pada waktu malam, dia amat berat untuk melakukan amal pada siang kerana dosa yang dilakukan pada waktu malam menghalang beramal dan begitulah sebaliknya.

(5) Dosa membuatkan hati jadi keras dan degil. Payah benar nak dengar nasihat. Dia nasihat orang boleh tapi sangat berat bila ditegur. Suka bertekak, berbalah dan tidak menghormati orang lain. Bahasanya kasar dan tidak menghormati perasaan orang lain.

(6) Dosa derhaka kepada orang tua boleh berjangkit kepada anak-anak. Allah membalas dengan tindakan anak yang akan menyakitkan hatinya sebagaimana dia menyakiti ibubapanya.

(7) Dosa menjadi hijab doa payah diterima Allah. Ada riwayat yang menyatakan sesiapa makan makanan haram, doanya tidak diterima Allah selama 40 hari.

(8) Terkadang dosa menjadi penghalang daripada mendapat dan menemui jalan penyelesaian.

(9) Dosa menjadi penyebab turunnya bala Allah. Ada satu hadis, Rasul bersabda yang maksudnya apabila nampak sangat zina dan riba, sesungguhnya mereka mengizinkan Allah menurunkan azab.